Salah Siapa?

osv.com.



Banyak sekali manusia, sejak jaman Adam dan Hawa, suka sekali menyalahkan Iblis apabila mereka melakukan perbuatan-perbuatan yg salah atau berdosa. Contohnya pendeta saya seorang Indonesia.

Ketika dia baru datang di Amerika, hampir setiap hari dia datang kerumah anggauta gereja untuk minta uang sumbangan buat membangun gereja. Banyak juga anggota gereja yg kaya, maupun yg tak kaya, memberi sumbangan uang dan barang, seperti piano, dsbnya. Ternyata sebagian besar dari uang sumbangan yg dia kumpulkan dia gunakan untuk bayar uang kuliah anaknya, bukan untuk membangun gereja.

Contoh lain. ketika saya dan isteri baru menikah, kami tinggal di satu kota kecil di Jawa Timur. Di kampung dimana saya tinggal ada seorang ulama, haji, yg sering berjalan kaki lewat di depan rumah saya setiap pagi. Ini pak haji ketika melihat isteri saya matanya melotot-melotot sebesar buah jengkol. Apa salahnya isteri saya sama dia? Mengapa matanya melotot-melotot ketika melihat isteri saya?

Ini contoh lain lagi. Kejadian 3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" 3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati " 3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, 3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." 3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati  karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya  yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya  3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" 3:10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." 3:11 Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" 3:12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." 3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku maka kumakan."


Setiap manusia memiliki "conscience" atau hati nurani (suara hati) walaupun seorang anak bayi sekalipun. Cuma bedanya anak bayi belum mengarti menggunakan suara hatinya. Sedikit sekali pilihan-pilihan yg mereka bikin dalam hidup mereka yg memerlukan "hati nurani" dibandingkan dengan pak Pendeta, pak Haji dan Adam dan Hawa. Seorang anak bayi bisanya menangis saja - that's all. Setelah mereka bertambah besar, pengetahuan mereka mengenai hubungan mereka dengan sesama manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dunia, dsbnya, bertambah banyak dan bertambah luas dan disinilah mereka mulai belajar menggunakan hati nurani atau "conscience" mereka. Dengan kata lain, "conscience" is a process yg setiap manusia hadapi atau akan miliki melalui habit atau kebiasaan dalam perbuatan atau tingkah laku sehari-hari - yang GOOD atau yang EVIL. Kebiasaan apa yg Anda miliki?

"Conscience" bisa diumpamakan sebagai filter atau saringan yang menyaring tingkah laku yang baik dari perbuatan yang tidak baik; dari yang adil dan dari yang tidak adil.

Kalau saya, umpamanya, sudah biasa atau sudah kebiasaan mengibulin orang lain, dan mengibulin orang bisa lewat filter "conscience" saya dengan mudah saja tanpa merasa "guilty conscience," siapa saja bisa saya kibulin walaupun anggota keluarga saya sendiri.





BERSAMBUNG

franksonnenbergonline.com

INDONESIAN  CUISINES  - Soytempeh